Sebagai negara dengan penduduk muslim yang mayoritas, wajar jika film Indonesia nyaris selalu diwarnai dengan film religi di setiap eranya. Sebut saja tahun 1977, film Al Kautsar
yang dibintangi almarhum WS Rendra menjadi salah satu film religi yang menonjol. Karena di era tersebut, film besutan sutradara ternama Chaerul Umam ini satu-satunya film yang
bernafaskan religi dimana saingannya bertemakan cinta seperti Badai Pasti Berlalu karya Arifin C. Noer atau film komedi dimana almarhum Ateng menjadi bintangnya. Tak heran, film yang berlatar belakang pesantren ini mendapatkan anugerah Tata Suara Terbaik di Festival Film Asia XXIII, Bangkok.
Kemudian di era 80-an muncullah Titian Rambut Dibelah Tujuh, lagi-lagi garapan Chaerul Umam. Film yang dibintangi Dewi Irawan, El Manik, Sukarno M. Noor dan banyak lagi ini bercerita tentang intrik kehidupan di sebuah desa yang diwarnai pengkhianatan dan percintaan. Film ini meraih banyak penghargaan di Festival Film Indonesia tahun 1983, antara lain Skenario Terbaik, nominasi Sutradara, Pemeran Utama Pria, Pemeran Utama Wanita, Pemeran Pembantu Pria, Editing, Fotografi, Musik dan Artistik Terbaik. Tak hanya itu, juga mendapatkan Penghargaan PWI Jaya sebagai Film Drama Terbaik 1983.
Beberapa puluh tahun kemudian, yaitu tahun 2008, sutradara muda, Hanung Bramantyo mendulang sukses dengan film religi Ayat-Ayat Cinta. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy ini bercerita mengenai kehidupan pemuda Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Banyaknya konflik yang terjadi membuat cerita dalam film ini menarik. Dalam waktu kurang dari sebulan, Ayat Ayat Cinta sanggup meraih 3 juta penonton! Jumlah yang sangat fantastis untuk sebuah film karya anak bangsa.
Kesuksesan yang ditangguk Hanung dan kawan-kawan ini membuat banyak film-film religi bermunculan. Mulai dari Kun Fayakun karya ustad ternama, Yusuf Mansur, Perempuan Berkalung Sorban yang juga disutradari oleh Hanung Bramantyo sampai kembalinya sutradara spesialis film religi, Chaerul Umam lewat Ketika Cinta Bertasbih yang juga merupakan adaptasi novel Habiburrahman El Shirazy atau film reliji yang dibungkus komedi bertajuk Doa Yang Mengancam yang dibintangi oleh komedian, Aming.
Jika diibaratkan dengan hukum ekonomi, ada penjual maka ada pembeli atau ada permintaan maka ada barang. Banyaknya film religi menandakan bahwa film genre ini memang memiliki tempat tersendiri di hati penikmat film Indonesia. Biasanya film-film bernafaskan Islami ini diluncurkan bertepatan dengan momen bulan puasa atau hari raya Idul Fitri. Seperti tahun ini, Ketika Cinta Bertasbih 2 siap tayang di bioskop tanggal 17 September. Nah, buat anda penikmat film Indonesia, sepertinya anda sudah punya pilihan pas untuk menemani hari libur lebaran anda nanti ya!